Oposisi Pertanyakan Alasan Trump Serang Jenderal Iran

AS,, -IvoryNews.co.id
Fraksi Demokrat di Kongres Amerika Serikat mempertanyakan alasan Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara hingga menewaskan perwira tinggi militer Iran, Mayjen. Qasem Soleimani, di Baghdad, Irak, pada Jumat (3/1) kemarin. Sebab menurut mereka dari hasil taklimat lembaga pertahanan dan keamanan belum terdapat ancaman yang serius sehingga harus mengambil tindakan seperti itu.

“Staf saya diberi taklimat oleh sejumlah orang yang mewakili sejumlah lembaga pertahanan dan keamanan pemerintah AS, dan mereka menyatakan belum merasa ada ancaman besar dalam waktu dekat,” kata Senator fraksi Demokrat asal New Mexico, Tom Udall, seperti dilansir CNN, Sabtu (4/1).

Hal senada juga disampaikan sejawat Udall dari Maryland, Chris Van Hollen. Menurut dia dalam taklimat tidak disampaikan tentang bahaya ancaman dari Iran ataupun Soleimani.
“Tidak ada hal yang mencolok dalam taklimat yang membuat saya tetap berkeras bahwa peningkatan ketegangan situasi di Irak dan Iran sebenarnya tidak diperlukan. Saya tidak diberi informasi yang mendukung klaim pemerintah bahwa ada ancaman gawat terhadap warga AS,” kata Hollen.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan mempunyai alasan untuk memerintahkan membunuh Soleimani. Trump berdalih Soleimani merencanakan serangan besar terhadap warga AS di Timur Tengah, maka dari itu dia mencegahnya dengan menyerang terlebih dulu.
“Dia (Soleimani) merencanakan serangan besar dan kita menghabisinya lebih dulu. Qasem Soleimani sudah tewas dan aksinya untuk menumpahkan darah sudah berakhir,” kata Trump dalam acara “Evangelicals for Trump” di Di Gereja King Jesus Ministry di Miami, Florida.
Trump berdalih pemerintahannya sengaja menghabisi Soleimani karena justru mencintai perdamaian.
“Qasem Soleimani berencana menyerang warga AS, tetapi kini kita bisa memastikan hal itu sudah berhenti demi kebaikan,” kata Trump.

“Kami tidak mencari peperangan, tidak berusaha mendirikan negara atau mengganti rezim, tetapi sebagai presiden saya tidak ragu untuk menjamin keselamatan warga AS,” ujar Trump.

AS meluncurkan serangan udara terhadap pesawat yang ditumpangi Soleimani saat baru mendarat di Bandara Baghdad.

Selain Soleimanani, wakil komandan milisi Syiah Irak (PMF), Abu Mahdi al-Muhandis, petinggi milisi Kataib Hizbullah, dan seorang petugas protokoler bandara Irak, Mohammed Reda juga turut meninggal dalam insiden tersebut.

Serangan ini terjadi dua hari setelah milisi Syiah Irak dan simpatisannya menyerbu kedutaan besar Amerika Serikat di Baghdad.

Insiden itu terjadi setelah AS membombardir markas Kataib Hizbullah pada akhir pekan lalu hingga menewaskan 25 orang.

Tunjuk Pengganti

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menunjuk perwira militer untuk menggantikan Soleimani. Doa adalah wakil komandan Pasukan Quds, Mayjen Ismail Qaani, yang juga bertugas bersama mendiang selama bertahun-tahun.

“Jenderal Ismail Qaani sudah menjadi komandan unggulan dan sudah bekerja bersama mendiang Soleimani di Pasukan Quds selama bertahun-tahun,” kata Khamenei.

“Agenda Pasukan Quds tetap sama seperti di bawah kepemimpinan Soleimani. Saya ingin berterima kasih kepada seluruh kolega atas kerja sama mereka dengan Qaani, dan saya mendoakan mereka sukses dan mendapat ilham,” kata Khamenei.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Iran, Brigjen. Ramazan Sharif, menyatakan akan merancan serangan balasan yang menyakitkan untuk AS.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »