Pelaku Industri Desak Pemerintah Buka Keran Impor Garam

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) meminta pemerintah segera merealisasikan impor garam industri pada semester II 2019. Pasalnya, persediaan garam pelaku usaha diklaim sudah menipis, sehingga banyak perusahaan terkendala dalam berproduksi.

Sekretaris Umum AIPGI Cucu Sutara mencatat kuota garam impor yang diberikan pemerintah tahun ini sebesar 2,7 juta ton. Realisasinya sudah mencapai 1,54 juta ton atau 57,03 persen hingga semester I lalu. Seharusnya, masih ada sisa kuota impor 1,2 juta ton yang bisa diambil pada semester kedua tahun ini

Hanya saja faktanya, persediaan garam kini tinggal 77 ribu ton dan diperkirakan habis pada September mendatang. Hingga kini, pemerintah belum juga menerbitkan rekomendasi teknis impor garam, sehingga impor tak kunjung datang.

“Menurut kami kebutuhan sudah sangat mendesak, jadi kami minta sisa kuota impor yang sudah disediakan kepada kami untuk dibuka secepatnya. Industri sudah kehabisan bahan baku,” jelas Cucu di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Selasa (20/8).

Akibat minimnya stok, Cucu menjelaskan bahwa kini sudah banyak industri pengguna garam yang sulit beroperasi, utamanya industri aneka pangan pemain besar. Bahkan, salah satu perusahaan kimia sudah merumahkan sementara 180 karyawannya gara-gara produksinya terhenti.
Sementara itu, pelaku industri masih belum bisa menggunakan garam lokal lantaran kualitasnya dianggap belum mumpuni. Misalnya, kadar air masih di atas 1 persen dan kadar garam (NaCl) masih di bawah 97,5 persen.
Kemarin memang sudah ada penandatanganan nota kesepahaman bahwa industri mau menyerap 1,1 juta produksi garam lokal. Hanya saja, garam lokal itu lebih cocok digunakan sebagai garam konsumsi, pengasinan ikan, penyamakan kulit, dan produksi es. Sekadar informasi, penyerapan garam lokal ini akan berlaku sejak 6 Agustus 2019 hingga Juli 2020 mendatang.
“Jadi impor garam itu sebuah keniscayaan, jadi kami mohon percepat realisasi karena ini berkaitan dengan kebutuhan bahan dasar dan bahan baku dsri industri. Asosiasi makanan dan minuman pun sudah ketar-ketir menghadapi pasokan garam yang menipis ini,” imbuh dia.
Ia juga mengklaim tidak ada penggunaan garam yang berlebihan sepanjang semester lalu yang berpotensi menyebabkan minimnya persediaan garam industri. Cucu bilang, penggunaan garam industri terbilang stabil setiap bulan.
“Memang ada lonjakan kebutuhan saat masa ramadan dan lebaran nanti, tapi sejauh ini kebutuhan kami setiap bulan itu stabil,” jelas Cucu.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan indrasari Wisnu Wardhana tidak memberi tanggapan mengenai keluhan pelaku usaha. Ia hanya mengatakan realisasi sudah berjalan sesuai rencana dan diharapkan realisasinya mencapai kuota awal 2,7 juta ton di akhir tahun nanti.
“Sejauh ini belum ada penambahan kuota impor garam, sehingga masih sama seperti rencana awal,” pungkas dia.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »