Kisah Didi Kempot dari ‘Stasiun Balapan’ sampai ‘Sewu Kutho’

IvoryNews.co.id
Mata sayu Didi Kempot sesekali bergerak seperti mengingat-ingat hal yang agak samar dalam ingatannya ketika CNNIndonesia.com memastikan terkait kabar ia telah menulis sekitar 700 lagu, bahkan lebih mencapai 800 sepanjang kariernya.

“Kurang lebih segitu,” kata Didi, sembari menghembuskan asap rokok, entah sudah yang keberapa kali. Ia mengaku tak terlalu mengingatnya dengan detail.

Wajar sebenarnya bila musisi bernama Didi Prasetyo ini lupa-lupa ingat akan lagunya sendiri. Ada banyak lagu Didi Kempot yang tersebar di tengah masyarakat sejak ia mulai serius bermusik pada 1989. Beberapa di antaranya bahkan hit hingga lintas generasi.

Stasiun Balapan

Salah satu lagu yang paling hit dan bisa disebut lagu ikonis dari sosok Didi Kempot adalah Stasiun Balapan. Lagu ini terdapat dalam album studio debut Didi Kempot yang juga bertajuk senada dan dirilis pada 1999.

Stasiun Balapan yang memiliki nada sendu di awal namun kemudian diiringi tabuhan gendang disebut Didi memang memiliki lirik berbahasa Jawa yang menyayat hati, seperti lagunya sendiri.

Ning Stasiun Balapan/ Kuto Solo sing dadi kenangan / Kowe karo aku / Naliko ngeterke lungamu,” lantun Didi di awal lagu yang kurang lebih berarti “Di Stasiun Balapan / Kota Solo yang jadi kenangan / Kamu dengan aku / Ketika mengantarkan pergimu,”

Ning Stasiun Balapan / Rasane koyo wong kelangan / Kowe ninggal aku / Ra kroso netes eluh ning pipiku,” lanjutnya yang berarti “Di Stasiun Balapan / Rasanya seperti orang kehilangan / Kamu ninggalkan aku / Tidak terasa netes air mata di pipiku,”

Lagu itu, kata Didi, terinspirasi dari kisah nyata yang ia lihat secara langsung. Saat masih mengamen di Stasiun Balapan di tengah era 1984-1986, ia melihat banyak orang yang berpelukan hingga menangis karena akan berpisah.
“Ya kami kan orang jalanan ngomong asal saja. Kala itu saya bilang ini menangis nanti lupa dan tidak memberi kabar. Ya sudah langsung tulis,” kata Didi santai.
Meski dibuat “asal”, lagu ini berhasil menjadi hit dan dilantunkan dari panggung ke panggung, dari bus malam ke bus malam, dari orang tua ke anak, dan dari radio ke radio.
Stasiun Balapan juga hampir masuk di berbagai album kompilasi atau pun ‘best of’ Didi Kempot. Di laman streaming Spotify, lagu ini salah satu dari tiga lagu hit di layanan tersebut, tercatat sudah diputar 1,052 juta kali.
Cidro

Dalam album debut Stasiun Balapan juga terdapat lagu Cidro yang kini digemari penggemar muda Didi Kempot yang disebut sadbois dan sadgerls.

Permainan kibor synth memulai lagu Cidro yang menyiratkan kesenduan. Tabuh gendang perlahan muncul mengiringi dan diikuti oleh gitar. Namun suasana melankolis langsung menyergap ketika suara bulat Didi masuk.

Wis sakmestine ati iki nelongso/ Wong sing tak tresnani mblenjani janji/ Opo ora eling naliko semono/ Kebak kembang wangi jroning dodo,” lantun Didi yang bermakna “Sudah semestinya hati ini sedih/ Orang yang kucintai ingkari janji/Apa tidak ingat pada waktu itu/ Bagai bunga wangi dalam dada,”

Duh piye maneh iki pancen nasibku/ Kudu nandang loro koyo mengkene/ Remuk ati iki yen eling janjine/ Ora ngiro jebul lamis wae,” lanjutnya yang bermakna “Bagaimana lagi ini memang nasibku/ Harus merasakan sakit seperti ini/ Hancur hati ini jika ingat janjinya/ Tak terkira ternyata hanya dusta,”

Didi mengingat Cidro bukanlah lagu jagoan pada masa itu lantaran sedang tenar lagu-lagu cinta jenaka. Ia tidak menyangka lagu yang bertema patah hati itu menjadi hit puluhan tahun kemudian.
Sama seperti Stasiun Balapan, lagu itu ditulis saat Didi masih mengamen. Namun sedikit berbeda dengan Stasiun Balapan, lagu ini merupakan pengalamannya sendiri.
Sebagai seorang manusia, Didi mengakui kala itu tengah menyukai seseorang. Namun keinginannya untuk dicintai nyatanya bertepuk sebelah tangan.
“Tapi ditolak. Wajar kalau ditolak karena hanya bermodalkan rambut gondrong, daki, dan pemabuk. Akhirnya jadi introspeksi diri sendiri,” kata Didi.
Cinta Sekonyong Koder

Lagu lain yang tak kalah tenar dengan Stasiun Balapan dan Cidro adalah Sekonyong Koder. Lagu berdurasi hampir empat setengah menit ini bercerita tentang seseorang yang jatuh cinta secara mendadak.

Didi menjelaskan lagu itu merupakan salah satu lagu guyon alias candaan di antara sekian banyak lagu patah hati yang ia buat. Menurutnya lagu itu ia tulis untuk menggambarkan percintaan masyarakat kelas bawah.

Sewu Kutho

Masih soal cinta, lagu Sewu Kutho juga tak kalah dengan tiga lagu di atas. Saat belum dirilis, lagu itu bertajuk Hanya Sekejap, kata Sewu Kutho diambil dari penggalan lirik yang berbunyi ‘sewu kuto uwis tak liwati’.

Sewo kutho uwis tak liwati/ Sewu ati tak takoni/Nanging kabeh, podo rangerteni/ Lungamu neng endi/ Pirang tahun anggonku nggoleki/ Seprene durung biso nemoni,” lantun Didi yang bermakna “Seribu kota sudah kulalui/ Seribu hati kutanya/ Namun semua, juga tidak tahu/Kau pergi kemana/ berapa tahun diriku mencari,”

Menurut Didi, lagu yang sudah didengar lebih dari 970 ribu kali di layanan Spotify ini sempat diberikan ke musisi Arie Wibowo yang dikenal dengan hit Madu dan Racun.

“Lagu itu sempat dinyanyikan oleh almarhum Arie Wibowo. Sewu Kutho saya berikan untuk dia karena pernah membantu rekaman di MSC Plus,” kata musisi berusia 52 tahun ini.

Banyu Langit

Selain lagu patah hati, Didi juga kerap membuat lagu yang terinspirasi dari tempat-tempat di Indonesia. Salah satunya ketika menggarap lagu Banyu Langit.

Lagu ini dia buat dengan khusus mengunjungi Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta, demi mendapatkan inspirasi untuk membuat lagu yang dibuka dengan petikan gitar dan piano ini.

Didi mengingat bertanya kepada sejumlah orang sebelum datang Nglanggeran. Pada dataran tinggi itu terdapat pemandangan yang bagus. Selain hutan, di sana terdapat batu-batu yang besar dan danau yang cantik.

“Danau itu berada di dataran tinggi, dekat dengan langit. Maka itu judulnya Banyu Langit,” kata Didi.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »