Pasang Surut Orkes Tanjidor Betawi

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Orkes tanjidor yang diperkenalkan oleh bangsa luar semenjak beberapa abad lampau berkembang menjadi kesenian budaya Jakarta. Walau juga terdapat di beberapa daerah lain, orkes tanjidor di ibu kota menjadi yang paling terkenal dan konsisten hingga kini.

Capaian itu tidak mudah diraih. Sejumlah orkes tanjidor yang berdiri sejak dulu dan mampu bertahan harus melewati berbagai rintangan. Mereka sempat mengamen dari pintu ke pintu, sampai dilarang oleh pemerintah DKI Jakarta.

Koordinator Orkes Tanjidor Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung, Sofyan Marta, mendengar cerita pasang surut orkes tanjidor dari kakeknya yang bernama Nya’at bin Jaim. Orkes tanjidor yang kini ia naungi merupakan warisan dari sang kakek.

“Kakek Nya’at ini membentuk grup sendiri sekitar tahun 1928. Waktu itu kakek saya berusia sekitar 30-40 tahun. Saya enggak hafal pastinya, lagi pula orang dulu kan ‘nembak’ umur,” kata Sofyan saat ditemui CNNIndonesia.com di Cijantung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Selain berprofesi sebagai pemain orkes tanjidor, Nya’at juga seorang petani. Di sekitar rumahnya yang berada di kawasan Cijantung terdapat kebun dan sawah. Selama tidak bermain tanjidor, ia bercocok tanam.

Bukan hanya Nya’at, hampir semua pemain tanjidor juga berprofesi sebagai petani di musim tanam dan panen. Melansir situs Jakarta.go.id, pemain tanjidor biasa menggantungkan alat-alat musik tanpa pelindung di rumahnya saat berprofesi sebagai petani.
Orkes tanjidor beraksi lagi usai musim tanam dan musim panen. Mereka kembali berkumpul dengan rekan satu orkes dan memainkan alat musik. Tanjidor terdiri dari empat alat musik perkusi dan enam alat musik tiup.

“Untuk kemudian menunjukkan kebolehannya bermusik dengan berkunjung dari rumah ke rumah, dari restoran ke restoran dalam kota Jakarta, Cirebon. Melakukan pekerjaannya yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan ngamen atau mengamen,” dikutip dari situs Jakarta.go.id.

Saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Nya’at pergi mengamen bersama orkes tanjidor yang ia pimpin. Ia biasa melakukannya di daerah perkotaan seperti Beos, Kampung Pecinan dan Glodok. Menurut Sofyan, Nya’at bisa mengamen selama satu bulan.
“Mereka baru pulang setelah pesta-pesta di kawasan Pecinan itu selesai. Ya tidurnya di sana, ya di emperan toko. Mereka berangkat dari sini jalan kaki memikul alat-alat itu. Pulang ke sini kembali bercocok tanam,” katanya.

Menurut Sofyan, di masa kejayaan orkes tanjidor, mereka mudah mendapatkan uang. Masalah datang ketika Wali Kota Jakarta Raden Soediro melarang orkes tanjidor mengamen karena dinilai merendahkan derajat pribumi, seolah pribumi mengemis pada orang keturunan Tionghoa.

Orkes tanjidor perlahan bangkit ketika Taman Mini Indonesia Indah (TMII) diresmikan pada April 1975. Pengelola sering mengundang untuk tampil di anjungan DKI Jakarta sehingga pemain kembali bisa menjadikan tanjidor sebagai mata pencaharian.

Keberadaan orkes tanjidor semakin sukses ketika Jakarta dipimpin oleh Gubernur Soerjadi Soedirja. Ia sempat memberikan alat-alat musik kepada grup orkes tanjidor. Orkes Tanjidor Pusaka Tiga Saudara adalah salah satu grup yang menerima pemberian pemerintahan Soedirja.

“Iya dia ngasih perabotan (alat musik) itu. Masih awet, masih. Orang-orang mah udah pada rusak, saya mah awet. Noh, bas gede banget masih ada. Saya mah ngurusinnya rapih,” kata pemimpin Tanjidor Pusaka Tiga Saudara, Ma’ah Piye, kepada CNNIndonesia.com di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Ma’ah berpendapat tanjidor kembali sukses salah satunya karena sinetron Si Doel Anak Sekolahan (1994-2006). Dalam salah satu episode, ada adegan Atun (diperankan oleh Suti Karno) terjepit sousaphone yang merupakan salah satu instrumen orkes. Saat itu, ia mengagetkan Babe (Benyamin Sueb) dengan meniupkan alat musik itu.

Dalam orkes tanjidor sousaphone biasa disebut bas selendang. Kata bas digunakan karena alat musik itu bersuara nada rendah, sementara kata selendang dipilih karena cara memainkan sousaphone harus dipikul di punggung hingga mengelilingi badan, seperti selendang. Sousaphone pun memiliki julukan baru setelah adegan Atun terjepit.

“Sinetron [Si] Doel Anak Sekolahan membantu tanjidor, dia mengangkat kebudayaan Betawi. Basnya sampai terkenal (dijuluki) jadi bas Atun, saking gedenya,” kata Ma’ah.

Sofyan menilai, kondisi orkes tanjidor hari ini masih cukup baik. Ia bersyukur pemerintah sudah kembali memperhatikan dan membantu pelestarian seni budaya tersebut. Ia mengungkapkan mendapat informasi pada 2020 mendatang, pemerintah provinsi DKI Jakarta akan menganggarkan pengadaan alat musik.

“Bentuk penganggaran dalam pembelian alat musik. Sebenarnya saya berharapnya juga diberi uang selain alat musik, karena jika dibelikan alat saja regenerasi akan kurang. Selain itu juga harus ada wadah untuk mengekspresikannya, kalau tidak percuma saja,” katanya.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »