Legenda Timnas Indonesia: Egy Maulana Vikri Bukan Maradona

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Mantan penjaga gawang Timnas Indonesia, Hermansyah, mengkritik keputusan pelatih Timnas Indonesia U-23Indra Sjafri, yang memanggil gelandang Lechia Gdansk Egy Maulana Vikri untuk memperkuat tim di kualifikasi Piala Asia U-23 2020.

Egy merupakan anak didik Indra sejak Timnas Indonesia U-19 dan termasuk satu dari tiga pemain Indonesia di luar negeri yang dipanggil Indra untuk tampil di Vietnam. Indra juga yang membawa Egy melanjutkan karier ke Polandia, ditemani ustaz Yusuf Mansur, dan agen Dusan Bogdanovic saat penandatanganan kontrak pada 10 Juli 2018.

Selain Egy, Indra juga memanggil Saddil Ramdani dari Pahang FA dan Ezra Walian dari RKC Waalwijk. Meski begitu, kehadiran Saddil dan Egy tidak dapat mendongkrak performa Timnas Indonesia U-23. Hal ini terbukti dari dua kekalahan dari Thailand (0-4) dan Vietnam (0-1) yang membuat langkah skuat Indra Sjafri terhenti.

“Intinya ada anak emas di Timnas Indonesia U-23. Egy ke Polandia yang bawa dia [Indra] sama Ustaz Yusuf Mansur. Memangnya dia [Egy] itu Maradona? Kalau ‘Maradona’, tidak masalah [dipanggil Timnas Indonesia U-23],” kata Hermansyah kepada CNNIndonesia.com pada Senin (25/3).

“Ini [kritik] sumbangsih saya untuk memberikan semangat supaya [Timnas Indonesia U-23] lebih baik, saya respek sama dia [Indra]. Hanya saja, harus realistis pelatih itu. Jangan memaksakan kehendak pribadi, hasilnya kalah. Ketika juara [Piala AFF U-22 2019] tidak ada Egy, mantap,” katanya menambahkan.

Tanggung Jawab

Herman lantas bercerita ketika dia membela Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia 1986. Kala itu, ada dua pemain spesial seperti Egy yaitu Ajat Sudrajat dari Persib Bandung dan Adolf Kabo dari Perseman Manokwari.

“Banyak yang mengusulkan kedua pemain itu masuk skuat Om Sinyo [Aliandoe], tapi Om Sinyo tetap percaya dengan tim yang sudah ia buat sebelumnya,” ucap Herman.

“Om Sinyo kekeuh dengan skema saat itu, sedangkan masyarakat ingin [Timnas Indonesia] juga diperkuart Ajat Sudrajat dan Adolf Kabo. Terbukti, Timnas Indonesia juara Grup 3B dalam zona Asia Timur,” ucapnya menambahkan.

Timnas Indonesia juara Grup 3B dengan perolehan sembilan poin, unggul dua poin dari India. Selain itu, di grup tersebut juga ada Thailand dan Bangladesh yang berada di urutan ketiga dan keempat dengan raihan empat poin.

Juara Grup 3B lalu melawan juara Grup 3A yakni Korea Selatan. Korea Selatan mengalahkan Timnas Indonesia dengan agregat 6-1 (2-0, 4-1).
Timnas Indonesia terpaksa mengubur mimpi untuk ikut Piala Dunia 1986 di Meksiko. “Memang saat itu sepak bola Korea Selatan lebih maju dari Indonesia,” ujar Herman.
Lebih lanjut, Herman berharap agar Indra Sjafri bisa mencontoh sikap dari Sinyo Aliandoe dalam memilih pemain.
“Berarti Indra Sjafri betul Egysentris, ini berarti Indra tidak punya prinsip. Saat juara [Piala AFF U-22] tidak ada Egy, ini jelas pelatih salah dan harus tanggung jawab. Berarti ada anak emas di timnas,” tutur dia.
“Janganlah Egysentris, ini [pemain] nasional yang dia bawa. Apa sih kelebihan Egy? Ini yang dibawa ke Polandia itu tidak jauh dari uang, kami [mantan pemain Timnas Indonesia] tidak mengerti uang melainkan nasionalisme. Mana sekarang jawaban Indra setelah bawa Egy?” tuturnya melanjutkan.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »