Kerabat Korban Penembakan Selandia Baru Buka Pusat Dukungan

Selandia Baru,, -IvoryNews.co.id
Teror penembakan di Selandia Baru menewaskan puluhan orang dengan beragam latar belakang mulai dari teknisi pesawat, pemilik toko, serta siswa penerbangan. Warga Australia, Brenton Tarrant (28), ditetapkan sebagai tersangka atas supremasi kulit putih. Ia didakwa melakukan pembunuhan pada Sabtu (16/3).

Tarrant ditangkap tanpa permohonan dan akan kembali ke pengadilan pada 5 April. Polisi menyatakan Tarrant bakal menghadapi dakwaan lebih lanjut.

Mengutip Reuters, Perdana Menteri Jacinda Ardern menyebut serangan pada Jumat (15/3) terorisme dan pembunuhan massal terburuk di masa damai Selandia Baru.

Hagley College, sebuah sekolah di seberang taman Masjid Al Noor, mendirikan pusat dukungan darurat hari ini. Masjid Al Noor merupakan lokasi penembakan di mana lebih dari 40 orang tewas. Sejumlah teman serta kerabat korban datang, beberapa di antaranya membawa roti lapis dan falafel.

Muzzammil Pathan menyatakan belasungkawanya kepada Imran Khan, temannya, yang terbunuh di masjid kedua di pinggiran Lindwood.

Pathan menceritakan Khan merupakan migran dari Hyderabad di India, dan memiliki kios makanan India serta baru-baru ini membuka toko daging.
“Dia merupakan orang baik. Kami berharap ini tidak terjadi. Dia datang ke Selandia Baru sejak 18 tahun lalu dan dia baru berumur 47 tahun,” ucap Pathan.
Selain Pathan, turut hadir Mohammed al Jabawe, korban yang selamat dari insiden pembantaian dalam masjid. Ia hadir untuk menyampaikan belasungkawa kepada temannya, Abdul Fatah (50) yang tewas dalam pembantaian itu. Fatah berasal dari Palestina dan pindah ke Christchurch dari Kuwait sekitar 20 tahun lalu.
Korbain lainnya adalah Sheik Moussa (70), seorang pengkhotbah Somalia di Christchurch.
“Dia orang tua yang baik. Dia senang memberkati pernikahan. Ia memberkati pernikahan saya,” kata Sulaman Abdul yang melarikan diri dari Somalia sebagai pengungsi ke Selandia Baru sejak 1993.
Teknisi perawatan pesawat Air New Zealand, Lilik Abdul Hamid, turut tewas dalam serangan itu. Ia telah bergabung dalam tim teknisi sesak 16 tahun lalu.
“Ia mengenal tim lebih awal ketika ia bekerja dengan insinyur pesawat kami sebelumnya di luar negari. Tim akan sangat kehilanggannya,” kata Kepala Eksekutif Air New Zealand, Christopher Luxon, dalam keterangan resmi.
Anak-anak turut menjadi korban penembakan keji itu. Berdasarkan data dari pihak berwenang, Mucaad Ibrahim, anak berumur tiga tahun, menjadi korban termuka penyerangan itu. Mucaad lahir di Selandia Baru dari orang tua asal Somalia.
Seorang siswa yang enggan disebutkan namanya menyatakan salah seorang temannya juga tewas pada Jumat Siang.
“Dia belajar menjadi pilot dan kami melihatnya pada kelas pagi. Dia kemudian ke masjid superti biaas dan malam harinya saya ditelepon teman dia telah meninggal,” ucapnya.
Sebagian besar korban merupakan pengungsi dari Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »