Dikepung Distorsi dan Harmonisasi The Adams

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Pengalaman yang berbeda langsung terasa ketika memasuki ruang konser sekaligus perilisan album The Adams, Agterplass. Lokasinya di Studio Palem, Kemang, Jakarta Selatan.

Namun konser sekaligus rilis album di studio tak membatasi kreasi The Adams. Mereka tak hanya menguasai satu, melainkan lima panggung yang disusun cukup berjauhan.

Di bagian depan ada satu panggung dengan drum. Di sebelah kanan ada dua panggung dengan set ruang tamu. Gitar diletakkan di salah satunya, sementara bas diletakkan di lainnya.

Di sebelah kiri juga terdapat dua panggung dengan set yang sama. Satu panggung yang dekat dengan panggung drum diberi gitar. Di panggung satu lagi ada kibor dan synthesizer.
Hampir di setiap panggung terdapat foto yang dibingkai rapi. Beberapa foto memuat aksi-aksi The Adams masa lalu. Datang ke konser ini pun terasa seperti berkunjung ke ruang tamu The Adams, intim. Apalagi panggung itu lebih seperti set, tidak tinggi, hanya 30 cm.
Tata letak panggung pun menarik. Bukan sekadar menjadikan tempat, The Adams sadar akan ruang dan memanfaatkan dengan baik. Rasanya bak ke pameran seni di berbagai galeri.
Tata letak seperti ini juga memaksa kurang lebih 500 pengunjung yang hadir untuk aktif bergerak. Bagaimana tidak, masing-masing panggung hanya ditempati satu personel The Adams. Penonton pun harus berpindah-pindah panggung jika ingin melihat aksi personel lain.
Tentu saja, kerumunan pengunjung paling banyak dipanggung Saleh Hussein alias Ale.
Saya sempat skeptis akan suara yang dihasilkan dari konser musik dengan tata letak seperti ini. Suara alat musik dan vokal dari panggung yang terpisah-pisah, tidak akan sebaik konser dengan satu panggung yang dipenuhi seluruh personel.
Ternyata, anggapan itu salah. Suara konser The Adams terdengar bagus dari awal sampai akhir. Berterima kasih lah pada pengeras suara yang ditempatkan di lokasi yang pas.
Di depan panggung drum terdapat serangkai speaker yang digantung di bagian atas kanan dan kiri. Dari dua rangkai speaker ini terdengar semua alat musik dan suara vokalis. Kemana pun pengunjung bergerak, suara dari speaker itu seakan ‘mengikuti’ mereka.
Di setiap panggung juga terdapat rangkaian speaker yang terdengar hanya mengeluarkan suara dari alat musik yang ada di panggung tersebut. Ketika mendekat ke panggung Ale, distorsi gitar yang ia mainkan terdengar lebih jelas. Namun suara alat musik lain dan harmonisasi vokal tetap terdengar dari dua rangkai speaker yang digantung di panggung depan.

Titik terbaik menikmati konser ini adalah di tengah. Akan terdengar suara dari berbagai arah panggung. Rasanya seperti dikepung distorsi dan harmonisasi dari pelbagai arah.

Sayang pengalaman unik itu harus berakhir setelah sekitar satu setengah jam. Penampilan The Adams berakhir pada pukul 21:45 WIB. The Adams membawakan 11 lagu baru dari album Agterplaas dan lima lagu dari album The Adams (2005) dan V2.05 (2006).

Band yang terbentuk 2002 silam ini menyusun daftar lagu dengan baik. Suasana terbangun pas dan tidak membosankan. Hampir setiap dua sampai tiga lagu baru dijeda dengan lagu lama. Setelah menyanyikan Agterplass dan Pelantur mereka menyanyikan lagu Waiting. Setelah menyanyikan lagu Esok, Lingkar Luar dan Dalam Doa mereka menyanyikan lagu Helo Beni.

Seperti kebanyakan penampilan The Adams, Ale dan Ario menjadi dua personel yang paling bawel. Selain berterima kasih dan mengenalkan lagu, mereka juga kerap bercanda.

“Kami enggak nyangka yang datang lumayan banyak. Ini kalau hitung biji yang datang udah banyak,” kata Ale menyanyikan lagu Gelap Malam.

“Lagu syahdu kalau ada lo malah jadi lawak, Ale, Ale,” kata Ario usai menyanyikan lagu Sendiri Sepi.

Mereka juga sempat cerita singkat pembuatan Agterplaas yang menjadi album pertama The Adams setelah 13 tahun. Lagu Pesona Persona, Ale bercerita, dibuat saat jamming.

Ario menambahkan, “Semua jamming kecuali gue, gue pusing ini lagu gimana nyanyinya. Kata Ale, ‘tau, lo aja pikir’.”

Ale lalu mengajak penonton untuk bersama-sama mengeluarkan ponsel. Dari awal sampai akhir memang selalu ada pengunjung yang mengangkat ponsel, entah untuk memotret atau merekam.

Itu pun dimanfaatkan Ale, yang berkata, “Ini udah lagu terakhir ya. Buat teman-teman, dari tadi gue liat pada rekam. Coba buka HP, live Instagram bareng seru kali ya.”

Sebagai sosok yang paling banyak diidolakan, perkataan Ale pun dituruti.

The Adams menutup konser dengan menyanyikan lagi Masa-Masa dan Konservatif. Konservatif yang benar-benar menutup konser itu bak lagu wajib bagi penggemar The Adams.

Alhasil, konser pun terasa sangat manis. Pengunjung tak ada yang berteriak ‘we want more,’ menandakan mereka semua telah terpuaskan tanpa harus ada encore.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »