Menyusuri Pantai-pantai ‘Kosong’ nan Indah di Lombok

Lombok,, -IvoryNews.co.id
Jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid atau dikenal juga dengan nama LIA (Lombok International Airport).
Bersama 20 wartawan lain yang datang atas undangan famtrip Kementerian Pariwisata, saya langsung menuju ke arah parkiran mobil tempat bus yang menjemput kami untuk berkeliling Lombok selama tiga hari setelah kurang lebih enam bulan kawasan ini berbenah dari gempa.
Hal pertama yang saya sadari ketika tiba di Lombok adalah cuacanya yang cukup terik. Masih pagi, tapi kulit saya langsung perih terpapar kuatnya sinar matahari. Rasanya ingin buru-buru masuk ke dalam bus berpendingin udara di dalamnya.
Selain udaranya yang gerah, ekspektasi saya akan Lombok masih dibilang sangat minim. Sempat pula terbersit mungkin Lombok tak jauh berbeda dengan kawasan wisata lainnya, yang menjual pantai sebagai destinasi utama, misalnya Bali.

Mengingat saya memang tak begitu suka cuaca panas, ditambah melihat banyak sekali anggota TNI yang hilir mudik berjaga di bandara, saya serasa sedang berada di kawasan perang bukan di destinasi wisata yang disebut 10 Bali Baru.

Ternyata, semua ekspektasi negatif saya mengenai Lombok langsung berubah ketika keluar dari kawasan bandara. Pemandangan hijau perbukitan langsung menyapa pandangan mata saya.

Kebetulan saat di bus saya memilih duduk di pinggir jendela agar bisa menikmati pemandangan Lombok yang baru berbenah dari bencana.

Menikmati Sepinya Pantai Mawun

Dari Bandara, saya dan rekan wartawan lainnya langsung diajak menuju ke daerah selatan Lombok. Destinasi pertama kami adalah Pantai Mawun.

Pantai ini terletak di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Jika disusuri, pantai ini berada tepat di sebelah barat Pantai Kuta dan sebelah timur Pantai Selong Belanak.

Perlu waktu kurang lebih 45 menit berkendara untuk tiba di pantai ini dari bandara. Tapi tidak usah merasa bosan di perjalanan, karena mata terus-terusan disuguhi pemandangan alam Lombok yang hijau oleh perbukitan dan jernihnya lautan.

Saat tiba di Pantai Mawun, saya langsung dibuat kaget, karena di pantai seindah nyaris tidak ada pengunjung, nyaris kosong.

Bisa dibilang pemandangannya seindah pantai-pantai di Bali namun hampir tak ada turis.

Pantai ini memiliki air laut jernih kebiruan dan diapit dua bukit yang saling berhadap-hadapan. Mata saya tak berhenti mengagumi eksotisme pantai kosong ini.
Saya sempat berbincang dengan anak-anak penjual gelang yang menjajakan dagangannya ke setiap turis yang datang. Siti Aminah namanya, usianya baru 14 tahun saat saya tanya.
“Jual gelang kaki dan gelang tangan buatan mama, saya juga bisa bantu kakak foto mendorong bukit, bagus nanti hasilnya,” kata Aminah sambil memperagakan gaya foto ilusi seperti mendorong bukit yang menjadi latar belakangnya.
Aminah mengaku, sejak gempa Agustus 2018 lalu, Pantai Mawun semakin sepi. Padahal daerah ini tak terdampak langsung oleh gempa bumi berkekuatan 7,2 SR itu.
Ibunya yang membuka kios mie cepat saji dan berbagai minuman seperti es kelapa dan minuman soda lainnya terpaksa harus tutup warung sampai nanti sekiranya musim turis kembali terbit.
“Karena modalnya habis, jualan mama tidak laku. Ya berhenti dulu,” kata Aminah.
Saat saya berkeliling di pantai ini, memang kentara sekali banyak kios pedagang yang tutup warung. Hanya ada dua kios yang saya hitung masih buka. Itu pun sepi pembeli.
Padahal, jika dilihat Pantai Mawun memiliki keindahan tingkat tinggi. Pantai ini sebenarnya sebuah teluk yang diapit dua bukit hijau yang menambah keeksotisan pantai berpasir putih ini, yakni Bukit Pengolo dan Bukit Nettem yang berjejer saling berhadapan di bagian timur dan barat Pantai Mawun.
Jika dilihat dari atas, garis pantainya berbentuk mirip seperti tapal kuda.
Satu jam bukan waktu yang cukup bagi saya menikmati keindahan Pantai Mawun. Namun karena banyaknya tempat yang mesti dikunjungi, saya harus berpuas diri untuk menahan hasrat menceburkan diri.
Rombongan kami lalu diatur kembali untuk menuju Pantai Mandalika, yang menjadi tujuan kedua sekaligus tempat kami akan bersantap siang pertama di Lombok.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »