Esemka Masih Mimpi, Malaysia Mau Punya Mobnas Baru

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Saat Indonesia masih berkutat dengan masalah Esemka, negara tetangga, Malaysia, sudah punya rencana membangun mobil nasional baru. Inisiatornya bukan orang baru, yaitu pria 93 tahun penggagas mobnas pertama Malaysia, Proton, yaitu Mahatir Mohamad, yang mulai Mei 2018 naik ke kursi perdana menteri.

Dalam laman blog Mahatir pada Juli lalu dia mengatakan alasannya mengumandangkan mobil nasional baru karena memandang Proton telah gagal. Penduduk Malaysia dikatakan lebih memilih membeli mobil impor Jepang, Jerman, dan China ketimbang mobnas.

Proton yang berdiri pada 1983 telah lama menikmati dominasi pasar karena mendapat proteksi dari pemerintah. Sebelum dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia pada 10 Mei 2018, Mahatir pernah menjabat posisi yang sama pada 1981 – 2003.

Mahatir menyebut Malaysia saat ini sangat terbuka buat mobil impor dan produsen asing sanggup menguasai pasar otomotif hingga Proton tenggelam. Sejak diakuisisi 49,9 persen oleh Geely pada tahun lalu, Proton dianggap bukan lagi mobnas.

Upaya melahirkan mobnas baru Malaysia menyeruak setelah Ministry of International Trade and Industry (MITI) pada 4 Oktober 2018 mengeluarkan proposal untuk para investor ikut dalam pengembangan proyek yang disebut New National Car Project (NNCP).

Sebelumnya Mahatir memang menyatakan mobnas baru bukan dikembangkan pemerintah karena sektor swasta dikatakan sudah sanggup membuat desain, prototipe, dan produksi massal. Swasta yang akan jadi penggerak, sementara pemerintah sebagai fasilitator.

NNCP dikatakan bakal mendebut pada 2020. Nama kendaraan pertama akan diumumkan pada akhir tahun ini, sedangkan prototipe perdana diperkenalkan pada awal tahun depan.

Malaysia punya visi mobnas baru punya teknologi semi-otonom. Ambisinya NNCP melahirkan produk bukan hanya untuk pasar domestik atau regional tetapi juga seluruh dunia. NNCP dikatakan didukung oleh 500 penyuplai otomotif baru.

Mobnas Indonesia

Indonesia pernah punya mobnas pada 1990-an bernama Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat) yang dihasilkan PT Timur Putra Nasional, perusahaan milik Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Proses kelahiran Timor dibantu oleh dua peraturan yang ditelurkan ayah Tommy, Soeharto, yang pada saat itu menjabat Presiden Indonesia.

Dua peraturan yang dikeluarkan, yaitu Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1996 dan Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 1996 dianggap sebagai tindakan pilih kasih karena membuat Timor menjadi anak emas. Timor terbebas dari pajak impor barang mewah, hasilnya mobil bisa dijual murah dan mendapat porsi besar pada pasar.

Gara-gara Timor investasi otomotif dari pemain besar seperti General Motors dan Chrysler dibatalkan. Sementara produsen Jepang merongrong sampai akhirnya membawa perkara Timor ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Indonesia dituduh melanggar ketentuan General Aggrements of Tariff and Trade (GATT) dan dihukum harus menghentikan proyek Timor. Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1998 dikeluarkan yang isinya mengakhiri mobnas, empat bulan kemudian, tepatnya 19 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden.

Esemka Kelamaan 

Timor merupakan mobnas sah Indonesia berdasarkan regulasi. Namun selain Timor, Indonesia pernah punya mobnas lain seperti Bimantara, Kancil, Tawon, Komodo. Sementara Maleo, Bakrie Beta 97 untuk menjadi mobnas hanya sekadar ‘mimpi’ pemerintah di siang bolong. Terakhir Esemka yang disebut-sebut akan menjadi mobnas.

Esemka yang awalnya hasil kerja siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini merupakan proyek masuk akal didorong menjadi mobnas sebab punya latar belakang yang berhubungan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Esemka pernah begitu populer saat Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo (2005-2012). Namun namanya meredup usai Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta (2012-2014) dan melenggang menjadi presiden pada 2014.

Pada Februari 2015, Abdullah Makhmud Hendropriyono, mewakili perusahaannya Adiperkasa Citra Lestari (ACL), menandatangani nota kesepemahaman dengan Proton di Malaysia disaksikan oleh Mahatir dan Jokowi. Proyek ini diduga upaya menghasilkan kolaborasi Indonesia dan Malaysia menghasilkan kendaraan untuk dijual di kawasan Asia Tenggara.

Namun kolaborasi tidak pernah terjadi karena pihak Indonesia merasa situasi politik di Malaysia sedang memanas pra pemilihan umum yang pada akhirnya memutuskan Mahatir menjadi Perdana Menteri Malaysia untuk kedua kalinya.

ACL akhirnya bekerja sama dengan Solo Kreasi Manufaktur sebagai pemegang lisensi mobil Esemka hingga menghasilkan perusahaan baru Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH) pada 2015. Hendropriyono adalah Presiden Direktur ACEH.

Sejak ditangani ACEH, sudah berkali-kali Esemka digaungkan ingin memulai produksi massal namun sampai sekarang belum pernah kejadian. Informasi terkini, Esemka terganjal perubahan regulasi batas emisi gas buang kendaraan yang ditetapkan pemerintah menjadi Euro 4 untuk mesin bensin pada 7 Oktober 2018.

Dari delapan kendaraan Esemka yang pernah diuji tipe, hanya satu yang lulus yaitu Garuda 1 bermesin diesel 2.000 cc. Model ini sudah mengantongi izin produksi massal dan dikabarkan akan meluncur pada tahun ini namun belum pernah ada pernyataan resmi tentang hal itu.

Garuda 1 bisa lulus sebab regulasi Euro 4 untuk kendaraan diesel berlaku pada 7 Oktober 2021. Sedangkan tujuh kendaraan Esemka lainnya yang bermesin bensin sudah lulus uji tipe standar Euro 2 namun belum diuji Euro 4.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »