Desa Wisata, Solusi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Jakarta,IvoryNews.co.id
Tidak sedikit wisatawan mancanegara (wisman) yang merasa jengah menginap di hotel berbintang saat mengunjungi Indonesia, mereka mendambakan bermalam di sebuah kawasan yang lingkungannya masih jauh dari hiruk pikuk suasana kota.

Itu sebabnya desa wisata kerap menjadi solusi bagi golongan manusia yang menginginkan kedamaian.

Bahkan, karena tingginya permintaan wisatawan mancanegara yang menginap di desa wisata, tak jarang jika kawasan ini berpotensi menjadi salah satu tumpuan bagi pemerintah. Khususnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

“Rata-rata pendapatan devisa dari satu wisatawan mancanegara adalah US$1.100 (sekitar Rp16,4 juta). Itu 100 persen masuk Indonesia, ini masuk ke UMKM,” ujar pengamat ekonomi, Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo, seperti yang dikutip dari Antara, rabu (26/9).

Pada tahun 2018, ia melanjutkan, kunjungan wisman yang masuk ke Indonesia diharapkan mencapai 17 juta, sehingga potensi pemasukan devisanya mencapai US$ 18,7 miliar (sekitar Rp278 triliun). Dengan asumsi rata-rata pendapatan, devisa dari satu wisman sebesar US$ 1.100

(sekitar Rp 16,4 juta).
“Mungkin selama 2018 ini kita akan mencapai di atas 16 juta, mudah-mudahan 17 juta turis. Target 2019 yang mencapai 20 juta turis,” ujarnya.

Menurutnya Yogyakarta membuka potensi penambahan jumlah wisman tinggi. Gunung Kidul saat ini menjadi salah satu destinasi teratas bagi turis yang datang ke Yogyakarta, dengan daya tarik utama Goa Pindul dan kawasan pantainya.

“Pendapatan per bulan di sana mencapai Rp500-Rp600 juta. Ini hasil konkrit masyarakat. Jadi ini satu dampak ekonomi luar biasa,” paparnya.

Cyrillus juga meminta agar pemerintah daerah setempat terus melakukan pengembangan infrastruktur lebih lanjut, yaitu jaringan listrik dan sumber air bersih jika ingin seperti daerah wisata lainnya seperti di Nusa Dua, Bali atau Lombok Selatan, NTB.

Mungkin Anda Menyukai

Translate »