Kemenpar Siapkan Misi Pengembangan Ekowisata Kepulauan Riau

Jakarta,, -IvoryNews.co.id
Kementerian Pariwisata melalui Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kemenpar, David Makes akan mempersiapkan kejutan menarik untuk membantu percepatan pengembangan produk ekowisata di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri).

David bersama Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar, Alexander Reyaan dan Direktur UJL-HHBK Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Djohan Utama Perbatasari hadir dalam Focus Group Discussion Pengembangan Produk Ekowisata, (19/9). Ketiganya saling menguatkan satu sama lain, dan langsung mematangkan konsep ekowisata bersama Asisten I Perekonomian Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum.

“Masing-masing punya peran beda-beda. Semua bersinergi,” tutur Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan, dalam keterangan terulis (20/9).

David punya peran mendorong percepatan pengembangan ekowisata di Kepri. Alex, sapaan akrab Alexander, punya peran mencari sesuatu yang baru untuk penambahan jumlah wisman, serta penambahan investasi yang pada akhirnya devisa dari sektor pariwisata. Sementara Djohan Utama, memiliki peran memberi perizinan hutan produksi di Kepri untuk dikembangkan menjadi ekowisata.

Sebelumnya, lewat ekowisata, David telah sukses melambungkan Plataran L’harmonie Menjangan di Bali Barat sebagai 100 top destinasi hijau dunia dan kesuksesan tersebut yang ingin ditularkan di Kepri.

“Teori pengembangan destinasi harus jangka panjang. Untuk menjadi produk pariwisata bisa, jadi destinasi belum tentu,” timpal David.

David dengan pengalamannya saat mengembangkan Plataran L’harmonie di Bali Barat memang membutuhkan durasi yang tak sebentar. Dia butuh tujuh tahun untuk menyulap Taman Nasional di Bali Barat menjadi destinasi ekowisata nasional, dan lima tahun kemudian baru menjadi kelas dunia.

Tahapannya banyak dan investasinya juga tak sedikit, tapi garis besarnya, tidak boleh merusak alam. Tanda tarafnya bisa berkaca pada Plataran L’harmonie Menjangan di Bali Barat. Jalan masuknya mempertahankan bebatuan yang ditata tanpa aspal ataupun cor beton. Papan petunjuk jalannya pun serba berbahan kayu dan artistik. Bekas-bekas batu karang tidak dibuang dan tidak dirusak. Semua ditata rapi di sekitar Plataran L’harmonie.

“Kepri juga bisa bikin seperti itu. Yang kita butuhkan adalah karakter investor yang passion ekowisata dan long term stamina,” paparnya.

“Yang didapat bisa banyak. Kalau berhasil, itu bisa jadi ATM. Contohnya banyak. Borobudur, Maldives, Bali, Raja Ampat. Saat sudah menjadi destinasi, bikin apa saja di destinasi dimaksud pasti laku. Kepri sangat bisa bikin ini karena ada CEO commitment yang kuat dari gubernurnya,” terangnya.

Komitmen yang dimaksud David adalah dukungan dari Pemprov Kepri untuk pembuatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Bagi David ini terobosan besar dan dampaknya pun diyakini bakal sangat kuat.

“Satu KEK Kepi membawahi berbagai destinasi. Kepri punya Anambas, Natuna, Pulau Moro Besar, dan ribuan pulau lainnya. Kalau masing-masing pulau dibuatkan sebagai destinasi di bawah KEK Kepri, akan banyak investor yang hadir,” ungkapnya.

Adapun soal ancaman ekosistem hutan dengan adanya destinasi ini, Direktur UJL-HHBK Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Djohan Utama Perbatasari menanggapi bahwa dirinya justru senang karena hutan akan terjaga.

“Saya justru tenang karena hutan terjaga. Nggak ada lagi ilegal logging. Nggak mungkin juga disertifikatkan. Artinya, kawasannya tetap, nggak berkurang,” ucap Djohan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun menyampaikan hal senada. Menurutnya, pariwisata merupakan sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan.

“Ini karena prinsip pembangunan pariwisata adalah sustainable atau berkelanjutan. Lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wisatawan,” papar Arief.

Ditambah lagi, tren dunia sedang mengarah ke sana. Pengembangan pariwisata selalu mempertimbangkan unsur 3P.

“Ada Planet (Alam), People (Masyarakat), dan Prosperity (Kesejahteraan). Aspek people itu kita harus perhatikan apa keinginan wisatawan. Lalu planet adalah bagaimana kita merawat dan menjaga tempat-tempat wisata. Dan terakhir prosperity kita wajib perhatikan nilai-nilai ekonomis dari sebuah tempat wisata,” ujar Arief.

Mungkin Anda Menyukai

Translate ┬╗