Dana (Siluman) Sumbangan Peningkatan Mutu (SPM)Polmed Menghambat Pendidikan Bagi Anak yang Ekonomi Kurang Mampu.

Medan , — IvoryNews.co.id
Masih dalam ingatan, Universitas Politeknik Medan (Polmed) dihebohkan dengan tuntutan mahasiswa agar Direktur  segera mengembalikan uang Sumbangan Peningkatan Mutu ( SPM ) yang telah dikutip kepada mahasiswa sejak angkatan 2013 hingga angkatan 2017.
Diketahui sebelumnya pimpinan Politeknik Negeri Medan  menghentikan pengutipan dana SPM mahasiswa baru 2018 gelombang kedua  sedangkan untuk yang gelombang pertama dana SPM  akan dikembalikan sebesar 4 juta/ mahasiswa.
Sontak saja Pemulangan dan penghentian pengutipan dana SPM untuk angkatan 2018 ini, mendapat perhatian serius dari Keluarga Mahasiswa Polmed.
Mendengar kabar pemulangan dana SPM, salasatu keluarga  Siswa Tahun Ajaran 2017/2018 Polmed, Cristopel Bako gagal mengecap pendidikan di Universitas ternama di Medan ini lantaran harus membayar dana SPM senilai Rp. 4.000.000, dan biaya – biaya lain dalam surat pengumuman kelulusan sebagai kewajiban bagi mahasiswa.
Sebagaimana pengumuman itu diwajibkan dengan keharusan melunasi pembayaran dengan keseluruhan beban biaya pendidikan tanpa terkecuali, bila tidak menyanggupi dapat diartikan siswa  yang lulus tersebut dianggap gagal menjadi mahasiswa di Polmed.
Keluarga Christopel Bako, Mira Malau membenarkan kenyataan itu, yang mana saat itu dirinya diminta Donna br Malau Ibu Kandung Christopel untuk meluruskan persoalan tersebut, namun apa daya, ketika hal itu hendak dikonfirmsi tidak ada pihak Polmed yang mau memberi penjelasan.
” Pada saat itu tidak ada pihak polmed yang dapat ditemui, sehingga untuk konfirmasi proses pembayaran biaya keseluruhan tidak dapat diketahui” ujarnya kepada awak media, Jumat (14/9/18).
Paman Christopel ini menjelaskan bahwa birokrasi Polmed terkesan tertutup dan sulit memperoleh informasi, padahal pihaknya berupaya untuk memperjuangkan Christopel dapat menimba ilmu di Universitas Negeri Medan itu.
” Karena ketiadaan biaya, kami mencoba meminta kebijakan Direktur Polmed untuk bisa mencicil biaya dalam pengumuman kelulusan dengan total biaya lebih Rp.9 juta, yang kami harapkan bisa dicicil” ucapnya.
Namun, kata Mira, tidak seorangpun dapat ditemui di Sekretariat Polmed, hanya Sekurity dan Staf yang tidak berkopeten memberi keterangan yang ada, makanya Ia bersama Adiknya Donna diarahkan untuk membayar saja.
” Karena uang tidak cukup saat itu, akhirnya kami memutuskan untuk merelakan anak kami tidak kuliah disitu, meskipun Christopel anak yang pintar dan berprestasi, kami harus rela meski dia menangis saat itu” jelas Mira Malau.
Mira menyayangkan anak pintar dari keluarga tidak mampu tidak menerima haknya , apalagi Chistopel anak yatim yang berprestasi, terbukti kini Christopel lulus sebagai mahasiswa STAN di Jakarta.
Sementara itu sebelumnya, Direktur, M. Syahruddin menjelaskan pengutipan dana SPM baru mulai diberlakukan sejak angkatan 2016, dan terpaksa dihentikan untuk angkatan 2018 karena adanya audit oleh Inspektorat Kemenristekdikti yang memerintahkan Direktur Polmed mengembalikan dana SPM yang telah dikutip kepada mahasiswa.
Direktur Polmed berdalih bahwa besaran dana BOPTN yang diterima dari Negara jumlahnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan kampus Polmed, dan sejauh ini dana SPM digunakan untuk pengembangan karakter mahasiswa dan upaya penunjang akreditasi.
Dari penelusuran awak media, ternyata pengutipan dana SPM bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Permendikbud ) No.55 tahun 2013 tentang Biaya kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal, yang secara eksplisit menegaskan bahwa tidak ada pengutipan kepada mahasiswa baru selain uang kuliah tunggal.
Jika dihitung- hitung total dana SPM yang telah dikutip sejak angkatan 2013 hingga 2017 mencapai  29 Milyar rupiah.(Team)

Mungkin Anda Menyukai

Translate »