Erdogan memutuskan menggelar Pemilihan Umum mempertaruhkan jabatannya.

Turki , — IvoryNews.co.id
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan mempertaruhkan jabatannya dalam pemilihan umum presiden dan parlementer yang digelar pada Minggu (24/6). Jalannya memperpanjang masa jabatan kali ini diprediksi tak akan mulus.

Erdogan memutuskan untuk menggelar pemilu sela untuk mempercepat implementasi konstitusi baru yang didorong lewat referendum tahun lalu. Perubahan itu memungkinkan presiden mendapatkan kekuasaan eksekutif yang menurutnya diperlukan untuk menghadapi ancaman ekonomi dan keamanan Turki.

Untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu dekade, warga Turki diberikan pilihan kandidat alternatif yang kuat. Salah satunya adalah kandidat oposisi Muharrem Ince.


Mantan guru fisika itu menjanjikan akhir nepotisme yang melanda pemerintahan Erdogan. Ia menyebut petahana arogan dan sudah terlalu lelah untuk melanjutkan kekuasaannya yang berlangsung selama belasan tahun.
Ince memimpin Partai Rakyat Republik (CHP) yang berhaluan liberal kiri untuk melawan Partai Keadilan dan Pertumbuhan (AKP) pimpinan Erdogan di tengah-kanan dari spektrum politik.

Selain itu, ada pula Meral Aksener, satu-satunya perempuan yang jadi kandidat penantang. Politikus yang sempat menjabat sebagai menteri dalam negeri di era 90-an adalah politikus nasionalis konservatif.

Posisinya bisa jadi alternatif bagi para pendukung Erdogan di sayap kanan. Ia berpisah dari partainya yang bergabung dalam koalisi Erdogan dan kini bergabung dengan Partai Baik (IYI).

Ia selalu menyoroti kesalahan manajemen perekonomian pemerintah saat ini. Jika menang, dia akan jadi presiden pertama Turki.

Mencalang Para Penantang Erdogan
Meral Aksener, satu-satunya perempuan yang jadi kandidat penantang Recep Tayyip Erdogan dalam pemilu. (Reuters/Huseyin Aldemir)
Selain itu, ada pula Temel Karamollaoglu, kepala Partai Bakat (Saadet) yang kerap megkritik jumlah pengangguran tinggi dan defisit perdagangan Erdogan.

Pemimpin partai Islam terbesar Turki itu juga gerah dengan kebijakan luar negeri kacau balau, pengajuan keanggotaan Uni Eropa yang mandek dan status darurat yang diberlakukan sejak kudeta gagal 2016 lalu.

Dia meyakini semua itu merusak hak dan kebebasan fundamental warga Turki.

Di antara semuanya, Ince dinilai sebagai ancaman terbesar bagi Erdogan. Pemimpin oposisi dianggap sebagai kandidat paling karismatik yang dipilih CHP.

“Kita sudah melihat hasilnya dalam hal bahwa ini adalah pertarungan antara Miharrem Ince dan Erdogan. Dan ini tak pernah terjadi sebelumnya. Erdogan biasanya tak punya penantang,” kata Asli Aydintasbas, peneliti senior di Dewan Eropa bidang Hubungan Luar Negeri, dikutip CNN

Ince bukan nama asing di Turki. Dia sudah menjadi anggota parlemen dalam 16 tahun terakhir dan meraup lebih banyak dukungan di luar kelas menengah atas sekuler yang sudah jadi langganan.

“Mantan pemimpin partai sebelumnya adalah birokrat atau negarawan,” kata Behlul Ozkan, penelitik politik dari Marmara University. “Ince, dengan akar keluarga pedesaan, ayah pengemudi truk dan ibu sertai saudara perempuan berhijab punya perbedaan dari para pendahulu.”

Saat Ramadan Ince tampil bersama saudara perempuannya yang mengenakan kerudung. Dia menegaskan akan terus menjamin hak perempuan menggunakan penutup kepala itu di ruang umum, termasuk universitas.

Mencalang Para Penantang Erdogan
Di antara semua penantang, Muharrem Ince dinilai sebagai ancaman terbesar bagi Recep Tayyip Erdogan dalam pemilu. (Reuters/Stoyan Nenov)
Hijab dilarang setelah kudeta 1997. Perempuan yang mengenakannya tak boleh masuk universitas, bekerja di bidang farmasi dan hukum, atau menjabat sebagai anggota parlemen. Erdogan mencabut larangan itu pada 2013.

Pesan transformasi dari Erdogan membawanya memenangi 12 kemenangan pemilu dalam 16 tahun terakhir. Ia pun menjadi pemimpin Turki yang paling lama menjabat dalam sejarah.

Namun, kini kampanye Erdogan yang biasanya meriah mulai redup. Sementara itu, massa pendukung Ince tampaknya jadi yang terbanyak sejauh ini.

Mantra pertumbuhan dan perkembangan Erdogan mulai pudar sementara warga Turki terjepit kemunduran ekonomi. Lira kehilangan 20 persen dari nilainya sejak awal tahun dan inflasi berada di angka 12 persen.

Para pemilih pun mulai lelah dengan langkah Erdogan yang dipandang sebagai sebuah upaya meraup kekuasaan penuh, lewat razia dan pengekangan ekspresi yang diyakini dilakukan pemerintah.

“Ini adalah situasi di mana Erdogan tak bisa menyalahkan siapapun. Pemerintah tak sedang dipimpin orang lain sehingga dia bisa berkata  ‘pilih saya dan saya bisa meningkatkan perekonomian,” kata Aydintasbas…(cnn)

Mungkin Anda Menyukai

Translate »