Surat dari Rantau Mencari Sesuap Nasi di Hong Kong

Jakarta,—IvoryNews
Tahun ini genap 18 tahun saya mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hong Kong. Ribuan kilometer jauhnya saya membanting tulang untuk menghidupi keluarga yang tinggal di Kediri, Jawa Timur.

Saya angkat koper ke Hong Kong pertama kali pada tahun 2001. Alasannya karena ijazah tamatan SMA saya tidak laku di mata perusahaan Tanah Air. Mungkin karena saat itu Indonesia juga sedang dihantam krisis moneter.

Terbersit keinginan melanjutkan pendidikan demi masa depan yang lebih baik, tapi urusan dompet lebih memanggil.

Orangtua saya hanya berkarier sebagai penjual sayur di pasar. Sementara dua adik saya masih kecil, butuh mengecap bangku pendidikan sekolah minimal seperti saya. Demi mengubah nasib keluarga saya “mencari sesuap nasi” di negara orang.

Beruntungnya sampai di Hong Kong saya langsung mendapat pekerjaan dari agen penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Surabaya, Jawa Timur. Gajinya lumayan, sekitar HK$1.800 (sekitar Rp3 juta)

Tapi keberuntungan saya di negara yang mendapat sebutan Manhattan dari Timur itu tak bertahan lama, karena gaji saya selama tiga bulan bekerja di rumah majikan pertama tidak kunjung diterima.

Alasannya klasik, gaji berbulan-bulan itu untuk menutupi biaya pelatihan dan penyaluran yang dilakukan oleh agen.

Setelah tujuh bulan bertahan, saya memutuskan untuk kabur dari rumah majikan pertama. Selain masalah gaji, mereka juga sering mempekerjakan saya hingga larut malam. Makan minum yang diberi juga seadanya.

Saya lalu ditampung oleh rekan-rekan TKI di Hong Kong. Mereka lalu menyarankan saya untuk melakukan konsultasi hukum ke Mission for Migrant Workers.

Mengetahui masalah yang menimpa saya, mereka mengantar saya untuk hidup sementara di tempat penampungan bernama Bethune House. Selama enam bulan saya menganggur sampai Departemen Tenaga Kerja Hong Kong mengurus masalah ketenagakerjaan saya.

Berbulan-bulan di sana akhirnya saya paham bahwa gaji di rumah majikan pertama jauh di bawah standar. Mereka juga seharusnya memberi saya jatah libur tiap minggu.

Dari masalah itu, saya selalu ingat untuk menyimpan kontrak kerja tertulis.

Menurut data Asosiasi Buruh Migran Indonesia yang saya dirikan bersama rekan-rekan TKI, secara total ada sekitar 80 persen buruh migran di Hong Kong yang bekerja di bawah upah minimum.

Sebanyak 70 persen buruh migran juga tak pernah mendapat jatah libur.

Selain yang mendapat upah di bawah standar dan tak mendapat jatah libur, tak sedikit juga yang mendapat kekerasan verbal dan fisik. Sungguh menyedihkan.

Setelah kejadian di tahun-tahun pertama, saat ini saya kembali bekerja di rumah majikan yang lebih memperlakukan asisten rumah tangga dengan manusiawi. Selama delapan tahun bekerja di sana, saya mendapat kehidupan yang layak.

Uang yang saya kirim ke kampung bisa dibilang cukup. Saya juga masih bisa kongko dengan rekan-rekan TKI lainnya setiap hari libur.

Salah satu tempat kongko kami ialah Victoria Park.

Victoria Park seakan menjadi saksi bisu suka duka para TKI di Hong Kong. Di taman itu kami bisa saling melepas rindu, berbincang soal pekerjaan, sampai merayakan pesta ulang tahun di saat jauh dari kerabat.

Majikan saya yang baru juga mengizinkan saya untuk kembali mengambil kelas akhir pekan di Chinese University of Hong Kong.

Ya, mengecap bangku perkuliahan memang masih menjadi cita-cita saya sampai saat ini.

Jika ada rezeki, saya ingin mengambil jurusan yang berhubungan dengan hukum ketenagakerjaan, sehingga saya bisa membantu masalah hukum rekan-rekan TKI di negara lain.

Pembaca CNNIndonesia.com yang berencana untuk menjadi TKI, ketahuilah bahwa ada empat hal yang perlu dipahami sebelum mencari pekerjaan di negara orang.

Yang pertama, pelajarilah bahasa, budaya, sampai kehidupan sosial dari negara yang dituju. Semuanya bisa diketahui melalui internet, jadi menambah wawasan tak perlu mahal kan?

Kedua, daftar ke agen penyalur resmi dengan kontrak tertulis. Pelajari isi kontrak dan langsung ajukan pertanyaan jika dirasa ada yang memberatkan.

Ketiga, simpan nomor dan alamat penting untuk keadaan darurat, terutama yang berhubungan dengan pemerintah Indonesia di luar negeri. Bergabung dengan kelompok ketenagakerjaan Tanah Air di negara tujuan jika ada.

Dan terakhir, persiapkan mental dan emosi. Karena perasaan rindu akan kampung halaman lebih menguras energi ketimbang menyapu halaman rumah majikan hehehe…

Mungkin Anda Menyukai

Translate »