Amman, — IvoryNews.co.id
Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Hotovely, pada Senin, 24 Juli 2017, mengatakan kepada media bahwa seorang pengawal kedutaan besanya di Amman, Yordania, terpaksa membunuh 2 warga Yordania.

“Mereka menyerang kami, salah seorang di antaranya menggunakan  obeng,” kata Hotovely.

Dia menambahkan,insiden penembakan itu berlangsung di gedung yang dijadikan kediaman oleh staf Kedutaan pada Ahad petang, 23 Juli 2017, waktu setempat.

Media Israel melaporkan, Yordania meminta insiden penembakan itu diusut tuntas dan melarang seluruh staf kedutaan besar Israel di Amman meninggalkan tempat hingga kasus ini terungkap.

“Namun Pejabat berwenang Yordania tak bersedia memberikan keterangan kepada pers,” tulis media Israel.

Adapun Kementerian Luar Negeri Israel tidak menanggapi permintaan pemerintah Yordania. Tetapi,jelas Hotovely, petugas keamanan kedutaan Israel mendapatkan kekebalan diplomatik sebagaimana diatur dalam konvensi internasional.

Usai insiden tersebut, Hotovely mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara melalui telepon dengan duta besar di Yordania.

Kasus penembakan ini berlangsung pada saat kedua negara, Israel dan Yordania, melakukan pembicaraan intensif mengenai kekerasa di tempat suci Yerusalem yang melibatkan umat muslim dan Yahudi. Yordania berwenang wewenang mengelola tempat suci umat Islam di Yerusalem.

“Kami saat ini membahas insiden penembakan di Kedutaan Besar Israel di Yordania, termasuk krisis di Yerusalem,” ujarnya seperti dikutip AP.

Menurut Hotovely, insiden itu bermula ketika 2 pekerja warga Yordania tiba di rumah diplomat untuk mengganti furnitur. Salah seorang penyerang yang diidentifikasi berusia 17 tahun menyerang petugas keamanan Israel dengan obeng.

“Pengawal menembak mati pemuda Yordania  tersebut,” media Israel melaporkan….(Red)
AP